Rabu, 30 Maret 2016

HMI dan Buruh, Simpul Revolusi kaum Mustadh’afin

Intisari
            Tulisan ini mengangkat gagasan terkait peran dan solusi HMI terhadap kesejahteraan kaum mustadh’afin terkhusus kaum buruh, sejatinya aktivis mahasiswa tentu sangat dekat dengan aktivis buruh setidaknya setiap 1 mei dua gerakan tersebut bergabung membentuk gerakan besar yang menekan penguasa untuk membuat kebijakan-kebijakan yang mensejahteraan kaum buruh. Selain itu penulis juga mencoba mengangkat sejarah gerakan buruh dan masa depan buruh kedepannya, dimana sebagai aktivis HMI tentu juga ikut mengawal kesejahteraan tersebut.


1.      Pendahuluan
Berbicara tentang kaum Mustadh’afin tentunya Bang Said Tuhuleley menjadi guru besar bagi aktivis mahasiswa, bukan hanya HMI tapi seluruh aktivis mahasiswa muslim sepakat bahwa bang Said adalah Guru besar untuk belajar tentang pemberdayaan masyarakat dan pembebasan kaum-kaum tertindas (mustah’afin). Bang Said sebagai legenda HMI dalam masa perjuangannya banyak membawa pemikiran-pemikiran dan inspirasi untuk terus berjuang meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Pada konteks ini penulis ingin mencoba mengangkat pemikiran bang Said dalam konteks kaum buruh, sejatinya mahasiswa tentu sangat dekat dengan pergerakan kaum buruh.
Seperti kita ketahui revolusi besar pertama di dunia salah satunya dalah revolusi bolshevik yang mampu mengangkat kaum buruh sebagai kelas proletan mampu menggulingkan kaum borjuis di rusia sehingga paham sosialisme pun menyebar sampai lah di Indonesia, namun sejatinya paham sosialisme ini tentunya harus disesuiakan dengan konteks keindonesiaan dan keislaman, buku Islam Sosialisme Tjokroaminoto tentunya menjadi referensi utama makna sosialisme dalam islam.
Jika melirik kebijakan pemerintah terhadap kebijakan untuk buruh tentunya melenceng cukup jauh dengan kesejahteraan rakyat kecil dan buruh, naiknya harga sembako dan berujung pada sistem outsorching pada buruh tentunya membuat kaum buruh tertindas, kebijakan-kebijakan inilah yang harus dikawal oleh aktivis HMI bagaimana mengawal kesejahteraan kaum mustadh’afin terkhusus kaum buruh.


2.      Pembahasan
Quo Vadis Gerakan Buruh
Dalam sejarah Indonesia dikatakan bahwa gerakan pertama yang ada adalah gerakan buruh, gerakan massa bermula dari gerakan buruh, barulah kemudian lahir gerakan-gerakan lain hingga gerakan mahasiswa. Buruh memiliki urgensi dalam konstelasi demokratisasi maka tidak heran Rueschmeyer dalam bukunya Capitalist Development and Democracy mengatakan bahwa kelas buruh merupakan kekuatan pro-demokrasi utama. Melihat sejarah kita dapat menyimpulkan bahwa kaum buruh sangat profesional dalam melakukan mobilisasi massa dan gerakan politik, selain itu Gerakan buruh memiliki dampak yang begitu besar, gerakan buruh dapat mematikan  proses produksi. Revolusi Bolshevik sukses membuktikan itu semua sehingga wajar revolusi bolshevik menjadi inspirasi bagi Semaun bersama para buruh untuk melakukan revolusi pada masa penjajahan di Indonesia. Fahmi panimbang menyebutkan Politik gerakan buruh di Indonesia, seperti halnya di negeri-negeri Asia Tenggara lainnya, memang telah ditekan sedemikian rupa agar mengadopsi “keserikatburuhan ekonomi” ketimbang “keserikatburuhan politik” yang dulu hadir dalam masa-masa perlawanan atas penjajahan. Tradisi “keserikatburuhan politik” pun kini hancur dengan dampak telah terbatasnya perjuangan buruh pada kesejahteraan ekonomi yang lepas dari agenda sosial dan politik yang lebih luas. Kita dapat melihat kondisi saat ini seberapa besarkah kekuatan buruh dalam memberikan tekanan kepada elit politik. Mungkin arus globalisasi yang begitu besar juga menjadi faktor dalam memberikan pelemahan kepada buruh dalam hal tekananan kepada kaum elit.

HMI dan Buruh
Gerakan Buruh di Indonesia tentunya sudah menjadi kawan berjuang aktivis HMI, kita semua sepakat bahwa ketidak-adilan sangat banyak diterima oleh buruh dan sudah kewajiban HMI ikut bergerak melawan ketidak-adilan tersebut. Setiap tahun di 1 Mei HMI bersama para buruh bergerilya di jalanan menuntut keadilan, 1 Mei sebagai simbol perlawanan besar-besaran, meski di tanggal lain pun HMI dan aktivis buruh juga tetap terus melawan. Seperti apa yang dituliskan oleh Sandra tentang sejarah pergerakan buruh di Indonesia, 15 september 1945 menjadi tanggal lahir Barisan Buruh Indonesia (BBI) hingga saat ini organisasi gerakan buruh terus menyebar, lahir dan terus bergerilya. Sandra juga menggambarkan bagaimana menghimpun kekuatan sosial revolusi Indonesia dari kaum buruh, dari tulisan itu kita sadar bahwa kelas buruh tentunya dapat menjadi kaum revolusi di negeri ini, revolusi Bolshevik sudah menjadi catatan besar sejarah dunia dan tentunya ini menjadi catatan penting bagi tiap negara untuk berhati-hati terhadap gerakan buruh. Gerakan Buruh menjadi ladang amal penting bagi aktivis HMI untuk berdakwah, sebagaimana kita ketahui bahwa paham sosialisme sangat dekat dengan islam dan sudah sepatutnya aktivis HMI banyak mengambil peran melawan ketidak-adilan di kaum buruh. Pemikiran dan Pergerakan aktivis HMI tidak dapat terlepas dari kaum buruh dan ada tanggung jawab HMI untuk mensejahterakan kaum buruh.

Buruh Hari ini
Terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia membuat ekspektasi buruh dan rakyat kecil begitu besar, kesuksesan kepemimpinan jokowi di solo menjadi inspirasi banyak masyarakat untuk memilih beliau dalam pemilihan gubernur DKI dan juga pemilihan presiden. Namun sayangnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sangat jauh dari angan. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tidak stabil dan cenderung naik membuat bahan pokok juga ikut naik, meskipun nantinya BBM juga bisa turun namun bahan pokok akan tetap dengan harga yang sudah dinaikkan. Coba rekan-rekan sembari makan di mie ayam (ataupun makanan lain) tanyakan kepada bapak mie ayam yang berjualan dengan gerobak bagaimana pandangan mereka terkait kebijakan yang dikeluarkan, ini hanya sekedar langkah kecil untuk kita membangun empati. Permasalahan utama dari buruh adalah sistem outsourcing. Merujuk pada Undang Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Outsourcing (Alih Daya) dikenal sebagai penyediaan jasa tenaga kerja seperti yang diatur pada pasal 64, 65 dan 66. Dalam dunia Psikologi Industri, tercatat karyawan outsourcing adalah karyawan kontrak yang dipasok dari sebuah perusahaan penyedia jasa tenaga outsourcing. Perbedaannya sistem outsourcing adalah karyawan direkrut oleh perusahaan penyedia tenaga jasa, bukan oleh perusahaan yang membutuhkan jasanya secara langsung. Nanti, oleh perusahaan penyedia tenaga jasa, karyawan akan dikirimkan ke perusahaan lain (klien) yang membutuhkannya. Karyawan outsourcing biasanya bekerja berdasarkan kontrak dengan perusahaan penyedia jasa bukan perusahaan pengguna jasa, ini yang menjadi permasalahannya. Sistem outsourcing sendiri hanya  lima jenis pekerjaan yang diperbolehkan menggunakan tenaga outsourcing diantaranya cleaning service, keamanan, transportasi, katering, dan pemborongan pertambangan. Kompas 1 Mei 2014 memberitakan Pandangan Jokowi terkait Sistem outsourcing ; “Kembali lagi ke undang-undangnya. Kalau di dalam undang-undangnya tidak boleh menerapkan outsourcing dan di lapangan ada yang menerapkan, ya tidak benar,” kata Jokowi. Jika kelak menjadi presiden, lanjut Jokowi, dia akan tetap memimpin berlandaskan undang-undang dan konstitusi yang berlaku. Sistem outsourcing itu berlaku sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 1 Mei 2016 akan menjadi momen pembuktian dari apa yang telah dikatakan oleh jokowi pada momen hari buruh tahun lalu, bersama para buruh kita akan menuntut apa yang disampaikan sang presiden ketika memiliki hajat untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Masih banyak keresahan-keresahan yang hadir di tengah kaum buruh dan masyarakat kelas menengah bawah, setidaknya kita jangan diam, karena diam adalah kedzoliman, Maka dari itu dari tulisan ini coba menghimbau rekan-rekan semua untuk melakukan aksi, entah itu demonstrasi, diskusi ataupun refleksi untuk membangun empati kita kepada rakyat kecil, kepada kaum tertindas, kepada buruh khususnya. Karena diam adalah pengkhianatan maka aksi adalah pembuktian, lakukan lah aksi apapun yang menurut kalian itu yang terbaik.

3.      Kesimpulan

Penulis menyimpulkan bahwasanya gerakan mahasiswa dan gerakan buruh adalah gerakan besar yang mampu menjanjikan perubahan, namun sebesar apapun gerakan itu tentunya ada perang dan kewajiban dari tiap kelas yang menyokong gerakan tersebut. Menyoroti aktivis mahasiswa terkhusus HMI penulis menekankan harus mengawal kebijakan terkait kesejahteraan buruh tersebut, memulai aksi-aksi kemanusiaan bersama buruh untuk mengingatkan penguasa terhadap makna kemanusiaan tadi sehingga penindasan semakin hilang di negeri ini, Penulis optimis gerakan mahasiswa islam mampu mebawa kesejahteraan buruh bukan hanya materi tapi juga moril, disinilah dakwah dibutuhkan untuk menguatkan islam di kalangan buruh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar