Minggu, 21 Januari 2018

Running to Vienna (?)


Sejak saat menjadi mahasiswa baru saya memang punya rencana untuk melanjutkan studi hingga S3, saya masih ingat dulu waktu belajar di perpus bersama teman2 Kimia D, sering berdiskusi tentang pelajaran dan rencana kedepan. Memang mereka-mereka yang pengen lanjut studi sekarang sudah berstatus mahasiswa S2, dan tersebar di beberapa negara, hebat juga mereka hehee


Semester 1 saya masih ingat masuk kelas (sit in) ke Kimia B, padahal saya Kimia D dan beberapa teman lain untuk mengisi kekosongan waktu saja. Kelas itu adalah kelas kimia analitik, dosen pengampunya adalah Pak Nurul. Sebagai seorang maba menurut saya gaya mengajar pak nurul saat itu menarik, santai dan mahasiswa mudah mengerti. 

Ternyata di semester dua saya dapat dua kelas yang diampu Pak Nurul, Kimia Dasar 2 dan Kimia Analitik dasar 2. Kelasnya menarik dan saya menyimak dengan baik, di akhir semester nilainyapun juga menarik. Semester dua ini juga saya berkenalan dengan kimia komputasi, saat itu ikut mbantu kepanitian simposium komputasi sains, saat sesi kimia komputasi yang tampil di depan Pak Harno dan Pak Ria, dan saya pun tertarik untuk belajar kimia komputasi nantinya sebagai peminatan.

Setelah kepo2 ternyata saat itu baru tahu bahwa Pak Harno, Pak Ria dan Pak Nurul mendapatkan gelar doktor dari salah satu kampus terbaik di eropa, Innsbruck University. Saat itu pula saya punya motivasi untuk studi di Innsbruck. Saat apply beasiswa aktivis nusantara saya pun bilang kalau saya bakal studi di austria nantinya sebagai rencana kedepan. 

Saat lulus saya langsung kepo2 di websitenya Innsbruck dan Vienna university, saya tanya ke admin penerimaan mahasiswa pascasarjana, dan mereka bilang untuk S2 tidak ada kelas bahasa inggris, harus punya sertifikat jerman dengan level B2. Waduh~, saya memang ga ada niat belajar bahasa jerman karena lesnya saja sudah mahal, belum lagi bahasanya yang agak njelimet.

Ternyata rezeki saya di Chulalongkorn University, kebetulan lab. kami dulu namanya Austrian-Thai Center for Computational Chemistry karena mendapatkan donasi riset dan pendidikan dari kementrian austria di era 80-an. Sekarang sudah jd CECC nama lab.nya. Info beasiswa dan penerimaan ini pun saya dapat dari Pak Ria karena kebetulan kolega Pak Ria disini mengirim e-mail ke bapak dan bapak meneruskan ke mahasiswa yang berminat. 

CECC juga sering mengirimkan mahasiswa untuk sandwich ke Vienna, di lab kami juga ada Professor Peter yang sekarang jd dosen di Chula yang sebelumnya adalah Professor di Vienna. Schrodinger juga menyelesaikan pendidikan tingginya di University of Vienna.

Vienna dan Innsbruck masih jadi impian yang harus dikejar, banyak pakar kimia komputasi dari lulusan tersebut yang saya kenal menjadi leader di jurnal-jurnal bereputasi dunia. Untuk kawan-kawan yang mbaca tulisan ini, saya mohon di doakan, selesai program S2 di Chulalongkorn secepatnya dan semoga saya bisa lanjut ke Vienna University atau Innsbruck (juga ndak apa hehe). 
Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar