Sabtu, 13 Januari 2018

Presiden Alternatif


Pilpres 2014 memang menjadi pilpres fenomenal selama saya hidup sampai saat ini. Fanatisme antar pendukung menjadi salah satu sebabnya, Presiden Jokowi dengan pendukung setianya tentu siap membela dan mendukung, disisi lain Capres Prabowo juga masih menyisakan kenangan yang membuat pendukungnya tetap setia membela dan memperjuangkan beliau untuk maju kembali.

Tapi kita tak bisa menyimpulkan bahwasanya Indonesia hari ini adalah kubu Jokowi dan kubu Prabowo saja. Indonesia hari ini masih besar dan luas, masih kaya dengan ideologi dan pemikiran. Kelompok-kelompok lain memang tak banyak eksis karena memang tidak ada representasi yang ditampakkan kecuali kritik yang membangun dan pemikiran yang diperjuangkan.

Menarik untuk menyoroti kelompok-kelompok ini, saya berasumsi bahwa kelompok inilah yang juga menjadi kunci lain kemenangan presiden Jokowi. Jokowi adalah sosok baru, fenomenal dan mempunyai track record yang bersih (sampai saat ini), disisi lain Jokowi adalah antitesis dari presiden SBY. Jokowi sederhana, keras kepala, dan berani nge-gas. Karakter tersebut yang terbangun saat Jokowi maju sehingga bukan hanya Jokow-ers, PDI-P, Koalisi Indonesia Hebat saja yang mendukungnya, tapi kelompok tadi, kelompok yang merindukan sesuatu baru, sebut saja kelompok X.

Sepanjang kepemimpinan Jokowi (hingga hari ini) memang sering terjadi huru-hara khususnya di sosial media, kongkrit di lapangan juga dapat dibenarkan, apalagi dengan terus menaiknya harga bahan pokok dan kebutuhan masyarakat. Dalih yang selalu di sampaikan adalah pemerataan kesejahteraan, Jokowi punya bukti akan hal ini, salah satu contohnya harga BBM yang merata dari Aceh sampai Papua.

Semangat mengejar ketertinggalan dengan cara membangun infrastruktur sebanyak-banyaknya memang menjadi acara utama pemerintah hari ini , membangun infrastruktur tentu butuh modal, uangnya darimana ?, Asumsi kan lah berhutang ke China, dan dari subsidi atau pajak-pajak rakyat yang terus meningkat. Fakta ini sebenarnya bisa dijadikan serangan untuk menjatuhkan Presiden Jokowi di Pilpres 2019 nanti, jika bisa menyerang dengan cerdas.

Tapi jikalau lawannya masih Capres Prabowo, tentu perjuangan sangat berat. November 2017 yang lalu Poltracking merilis bahwasanya elektabilitas Jokowi masih di angka 53% sedangkan Prabowo hanya 33% sisanya adalah tokoh lain. Pun dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang iseng melakukan voting dadakan di akun twitternya, alih-alih berharap Prabowo yang menang justru Jokowi masih berada di atas angin.

Alasan lain yang dapat dikemukakan adalah fenomena kasus La Nyala yang akhir-akhir ini heboh. Ramai-ramai netizen berkomentar tentang Gerindra dan Prabowo. Sulit rasanya untuk mengangkat nama besar Prabowo di pertempuran Pilpres 2019 nanti.

Menurut saya lawan yang harus dicari untuk mengalahkan Presiden Jokowi di Pilpres 2019 nanti adalah sosok antitesis dari Jokowi, sesederhana itu kalau memang mau mengalahkan saja, disisi lain tentu program yang beda, kalau kata Pandji :
"Sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik"

Kalimat tersebut adalah kunci untuk mem-viral-kan sesuatu di sosial media. Hari ini masyarakat sudah cukup cerdas dengan teknologi, jadi ya pertarungan Pilpres nanti sedikit banyaknya tentu dipengaruhi oleh sosial media. Untuk saudaraku yang ingin mengalahkan presiden Jokowi niatkanlah untuk kebaikan bangsa ini, pun dengan saudaraku yang mendukung presiden Jokowi niatkan juga untuk kebaikan bangsa ini. Demokrasi adalah pertarungan untuk kebaikan.

Oh iya, Pilkada DKI juga jadi evaluasi untuk belajar bagaimana cara mengalahkan Petahana. Pak Anies juga dapat kita simpulkan antithesis dari Pak Ahok, beliau sosok baru di kancah politik track record-nya saat itupun masih baik, Program-program yang ditawarkan juga bertolak belakang, seperti menghentikan reklamasi dsb. Kita dapat simpulkan Pilkada DKI kemarin adalah pertarungan Ideologi dengan kemasan yang cukup baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar